BEBERAPA pengusaha hiburan kemarin dilaporkan ke Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya lantaran tidak membayar royalti lagu oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Satu di antara yang diadukan ialah pengusaha yang mengelola tempat hiburan ternama, Alexis Karaoke.

Dalam menyikapi pengaduan itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Hiburan Erik Halauwet menjelaskan para pengusaha hiburan, khususnya karaoke, pada dasarnya tidak berkeberatan soal royalti tersebut. Hanya saja, besaran tarif serta aturan tentang royalti dianggap belum jelas.

“Jadi sosialisasi aturan royalti ke pengusaha hiburan baru sekitar dua bulan lalu dikelola LMKN dan itu pun deadlock,” kata Erik.

Penetapan biaya royalti itu merupakan peraturan baru yang dibuat Kementerian Hukum dan HAM. Sementara itu, LMKN merupakan lembaga yang ditunjuk mengelola royalti untuk produser, pencipta lagu, dan artis.

Namun, dalam perjalanannya, pengusaha hiburan dan LMKN belum satu kata soal besaran royalti yang harus dibayar. Pengusaha karaoke menilai royalti yang ditetapkan LMKN terlalu besar.

“Mereka berikan tarif Rp50 ribu per room per jam untuk karaoke kelas eksekutif yang dibayarkan selama satu tahun. Coba itu dikalikan, jadi berapa besarannya,” ujar Erik.

Dasar perhitungan tarif itu dianggap pengusaha hiburan tidak jelas, apalagi ada klasifikasi karaoke yang membedakan harga. Erik mengatakan tarif untuk karaoke eksekutif Rp50 ribu per room per jam, sementara karaoke keluarga sekitar Rp12 ribu per room per jam.

Tak hanya itu, para pengusaha merasa seperti ditodong karena tiba-tiba dipaksa harus segera membayar royalti di saat aturan baru itu baru saja disosialisasikan.

“Pertemuan mulai dua atau tiga bulan lalu dan itu berakhir deadlock. Ini kok tiba-tiba langsung diminta untuk membayar royalti selama 2016. Dasar perhitungannya saja tidak jelas, ini langsung ditodong,” jelasnya.

Saat dihubungi terpisah, Kepala Subdirektorat Industri dan Perdagangan Polda Metro Jaya AKB Iman Setiawan mengatakan laporan dari LMKN itu disampaikan lantaran pihak Alexis diduga tidak membayarkan royalti dan hasil karya cipta dari rekaman di fasilitas karaoke milik mereka.

Para pelapor itu menyebut Alexis Karaoke tidak membayar kewajiban royalti tersebut selama 2016 dengan besaran mencapai Rp3 miliar.

Leave a Reply